Inspirasi

Jumadi Bocah 15 Tahun Ini Bekerja Keras untuk Hidupi Ibu dan 4 Adiknya

19

Jumadi Bocah 15 Tahun Ini Bekerja Keras, Masa kanak-kanak, yang semestinya berisi beberapa hal menyenangkan seperti belajar serta bermain, nampaknya tidak berasa benar oleh figur Juwadi.

Bocah 15 tahun dari Dusun Malibari, Desa Ngargoloko, Kecamatan Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, ikhlas kerja jadi aspal aspal untuk memberi dukungan ibunya serta empat adik kandungnya.

Jadi Tulang Punggung Bocah 15 Tahun Ini Rela Bekerja Keras Jumadi Bocah 15 Tahun Ini Bekerja Keras untuk Hidupi Ibu dan 4 Adiknya
Juwadi yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya

Apalagi setelah kepergian ayahnya, Mitro Slamet (63), ia praktis menjadi tulang punggung keluarga. Tinggal di sebuah rumah dengan segala keterbatasannya, Juwadi dibantu oleh adik laki-laki almarhum ayahnya, Sendet (56) dan penduduk setempat.

Apalagi jika ada kekurangan makanan. Tidak hanya itu, kamar yang ia tempati bersama ibu dan empat saudara kandungnya sangat sederhana.

Dikutip dari halaman wiken.grid.id, rumah sederhana ini tidak memiliki banyak furnitur dan bahkan tidak dilengkapi dengan fasilitas seperti ruang tamu atau kamar mandi.

Di sana, Jumadi tinggal di kamar tidur yang dihuni oleh satu keluarga. Kamar ini juga satu dengan dapur untuk memasak sehari-hari. Menurut Pengirim T, kondisi keluarga Mitro Slamet memang sangat kurang.

1562876159 55 Jadi Tulang Punggung Bocah 15 Tahun Ini Rela Bekerja Keras Jumadi Bocah 15 Tahun Ini Bekerja Keras untuk Hidupi Ibu dan 4 Adiknya
Rumah sederhana yang ditinggalkan oleh ayah Juwadi dan salah satu kamar di dalamnya

“Juwadi, yang masih anak-anak, membantu menjadi pekerja aspal dan sejak kecil tidak bersekolah, oleh karena itu ia buta huruf dan tidak bisa membaca,” katanya seperti dikutip dari TribunSolo.com. Ibu Sutinem bahkan tidak bisa bekerja karena dia menderita keterbelakangan mental.

Tidak hanya itu, Jumadi juga harus menanggung kehidupan adik-adiknya, seperti Osidi (14) yang masih duduk di bangku SMP, Suwarno (10) di sekolah dasar, Ajeng (6) akan masuk TK, dan yang paling sulit adalah Siti Utari yang baru berumur 2 5 tahun.

Melihat kenyataan itu, Juwadi memilih menjadi buruh aspal dan tidak bersekolah demi kelangsungan pendidikan adik-adiknya. “Juwadi sendiri kesulitan berbicara seperti celat, dia bekerja untuk membantu proyek-proyek aspal dan sejak kecil, dia tidak pergi ke sekolah,” kata Sendet.

Praktis, hanya Juwadi yang menjadi pendukung kebutuhan rumah tangga keluarga sederhana ini. Sendet, yang merupakan adik dari ayah Juwadi, juga mengawasi mereka. Yang menggembirakan, keluarga Juwadi dilaporkan telah menerima bantuan PKH dari pemerintah.

Sayang sekali jika Anda masih sering mengeluh tentang kehidupan, atau bahkan lupa bersyukur atas berkah yang kita dapatkan setiap hari.

Kisah Jumadi di atas dapat menjadi cerminan, bahwa masih ada mereka yang mungkin memiliki kekurangan dan memiliki masalah yang lebih rumit yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran, eketawers. (eketawa/boombastis)

Semoga Ada hikmah di balik peristiwa ini

Originally posted 2019-07-12 08:01:16.

Loading...