Monday, July 11, 2016

Editor Says: Saat Manusia Lebih Percaya Dokter daripada Tuhan


eketawa.com, Judul di atas memang nampak sedikit keagamaan. Terus terang, saya ingin mengajak masyarakat berkaca kembali dari pilihan kata di atas. Suka tidak suka, Anda harus mengakui jika kalimat itu memang terjadi pada sebagian besar masyarakat kita. Sedemikian percaya kita pada dokter dan para ahli sampai-sampai apa pun rekomendasi dan perintah mereka diikuti.


****


Saya pernah punya pengalaman pahit dengan dokter. Saya memiliki anak yang kini berusia 9 tahun. Sejak usia 2 tahun anak saya memiliki penyakit aneh. Sebulan sekali penyakit tersebut timbul dan membuat anak saya muntah-muntah. Hal itu berlangsung 10 hari! Tidak ada makanan yang bisa masuk, bahkan air putih pun keluar. Di hari ke-10 biasanya cairan kuning sampai terlihat menandai lambungnya sudah sangat kosong.


Dalam masa ‘penjajahan’ penyakit, anak saya pun tidak bisa buang air besar, buang air kecil, dan buang angin. Bayangkan, selama 10 hari tidak dapat melakukan hal itu! Sungguh penderitaan tak mampu saya bayangkan. Lalu apa hubungannya dengan dokter? Terus terang, awalnya saya percaya bahwa rumah sakit lah solusi terbaik bagi anak saya, tetapi ternyata tidak. Mulai dari usia 2 sampai 5 tahun, buah hati saya keluar-masuk rumah sakit, ditangani dokter yang berbeda-beda dengan diagnosis berbeda-beda pula, juga obat-obatan yang berbeda-beda, apa-apaan ini?


Ilustrasi suntikan dokter | Via: istimewa


Kenapa pakai dokter berbeda-beda? Mudah, karena dokter yang pertama tidak mampu mengobati penyakitnya setelah menggunakan berbagai obat, lalu saya ganti dokter atas referensi dokter pertama, tapi tidak mampu juga, akhirnya anak saya dirujuk ke dokter spesialis yang (katanya) analisisnya lebih jago. Lagi-lagi dia tidak mampu!


Gak salah kalau saban hari kita dengar kasus penyimpangan atau kesalahan serius yang disebabkan oleh kegagalan paramedis sehingga menyebabkan penderita cacat atau tewas. Bayangkan, ketika anak saya gak mempan minum obat A, disodorkan obat B. Gak mempan juga, disodorkan obat C. Begitu terus. Sebelum memberikan obat, si kecil harus pasrah menerima prosedur-prosedur menyakitkan yang dilakukan dokter, termasuk memasukkan kamera mini ke dalam tubuhnya melalui selang. Waduh, dok!


Prosedur-prosedur dan obat-obatan ini yang kemungkinan besar bikin penyakit pasien tambah rumit. Tak salah jika marak kasus penyimpangan di Indonesia. Dari penelitian selama 2006-2015 sekitar 317 kasus terangkat ke permukaan. “Kami akui jumlah penyimpangan dari tahun ke tahun terus meningkat,” demikian kata Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Prof Dr dr Bambang Supriyanto SpA (K) pada Rabu, 20 Mei 2015 dari hasil wawancara kepada media. Merinding? Pasti!


Ilustrasi dokter | Via: istimewa


Masih hangat juga kasusnya, seorang anak kecil berusia 1,9 tahun asal Kalimantan bernama Lamuel, kini lumpuh setelah dirawat dari rumah sakit. Awalnya mengalami muntaber saja. Pertama dia dilarikan ke Rumah Sakit Yasmin, dirawat selama 4 hari, dan didiagnosis radang tenggorokan. Tidak kunjung sembuh, Lamuel dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara, dirawat 4 hari juga, dan diagnosanya beda lagi yakni flek paru-paru. Kondisi tak kunjung membaik, Lamuel dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus dan ditangani oleh dokter berinisial MD. Dokter MD mendiagnosa Lamuel mengidap radang otak. Ini mana yang benar, sih? Di Doris Sylvanus, Lamuel menjalani perawatan 3 hari dan selama itu pula dia tersiksa. Setiap hari dia harus disuntik sebanyak 23 kali!


Yang bikin miris, pada hari ketiga dirawat Lamuel masih bisa bergerak. Namun pada hari keempat bocah itu lumpuh sama sekali. Wajar jika keluarga menanyakan ada apa dengan kondisi anak-anak itu dan kenapa tambah parah. Namun apa yang didapat? Permintaan maaf disertai senyuman? Mimpi. Ayah Lamuel, Norwani, justru mendapat bentakan dari dokter MD. Sungguh luar biasa, kan?




Apa yang salah? Siapa yang salah? Sayakah yang salah? Sebagai orang yang meyakini adanya Tuhan, saya yakin setiap penyakit pasti ada obatnya. Balik lagi ke kasus anak saya. Saya memohon pertolongan kepada Yang Maha Kuasa agar dapat mengangkat penyakit anak saya. Dari situlah saya percaya bahwa doa seorang ibu ternyata mujarab. Saya dipertemukan dengan ‘obat’ anak saya. Apa itu? Pengobatan alami hasil ciptaan Tuhan langsung. Hah?


Jauh sebelum lahirnya para dokter canggih yang mengetahui pengobatan berbagai penyakit, sebenarnya manusia sudah menemukan cara untuk menyembuhkan gangguan kesehatan yang ia rasakan. Masih segar dalam ingatan, saya pernah menulis artikel berbunyi “Pelajari Jam-jam Penting Organ Tubuhmu Memperbaiki Diri”. Saya membacanya dari situs ca-biomed.org . Ternyata tubuh kita dapat menyembuhkan dari dalam. Lebih tinggi lagi jika dibantu oleh makanan-makanan yang bergizi. Kalau pun sakit, manusia zaman dulu mengambil ‘pusaka’ bumi yang alami untuk meredakan rasa sakitnya dengan kemungkinan kecil adanya efek samping.


Ilustrasi obat herbal | Via: istimewa


Akhirnya dengan banyak literasi pengobatan herbal dan kebiasaanonal, setiap penyakit si kecil berulang, saya mengatasinya dengan cara-cara alami. Memang butuh kesabaran dan hasilnya pun gak langsung. Alhamdulillah, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, saat ini penyakit anak saya tak lagi datang.


Saya sama sekali tidak melarang Anda untuk pergi ke dokter dan kembali ke herbal. Semua itu pilihan. Namun yang saya ingin sampaikan, ubahlah pola pikir bahwa dokter dapat melakukan segalanya untuk kesehatan Anda. Dokter cuma manusia. Dalam bahasa mansion-nya, manusia tempatnya salah. Jadi, Anda harus pintar dan bijak dalam memilih dokter mana yang sesuai, sekaligus juga mengetahui kandungan obat-obatan dari resep yang diberikan kepada Anda. Tahu pula jenis penyakit yang Anda derita, jadi -paling tidak- dapat mengambil langkah-langkah pencegahan pertama.


Ilustrasi gaya hidup sehat | Via: Mens Health


Terakhir, lagi-lagi sebagai manusia yang percaya Tuhan, saya meyakini kesembuhan adalah bagian dari kehendakNya. Setelah melakukan seluruh daya upaya demi sehat, jangan lupa memohon kepada Dia sehingga Anda bisa kuat menghadapi penyakit apa pun yang tengah dialami. Tak lupa pesan untuk para dokter, ikhlas lah dalam merawat pasien dan berharaplah agar Anda tidak ada di tempat mereka kelak. Semoga selalu sehat semua!


Editor Feed,


Ardini Maharani



Unik & Lucu untuk Eketawers- sumber:bintang.com Editor Says: Saat Manusia Lebih Percaya Dokter daripada Tuhan



Editor Says: Saat Manusia Lebih Percaya Dokter daripada Tuhan

Add Comments


EmoticonEmoticon