Thursday, May 28, 2015

Mau Kuliner Ikan Hiu? Baca Ini Dulu !

Beberapa waktu lalu, masyarakat khususnya para pegiat lingkungan sempat dihebohkan dengan tayangan kuliner Tongseng Hiu di salah satu televisi swasta Indonesia. 

Protes keras bergulir lantaran hiu saat ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi mengingat keberadaannya yang sudah terancam punah.

“Ini sangat disesalkan karena di tengah ramainya kampanye untuk melestarikan hiu dengan tidak mengonsumsi sirip hiu, justru menayangkan tongseng hiu yang bisa merangsang pemirsa untuk mencoba tongseng tersebut,” ungkap Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia, Nyoman Iswarayoga, saat dihubungi Kompas Travel, Jumat (15/5/2015).

Dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk mengonsumsi hiu maka hal ini akan meningkatkan perburuan hiu di laut. Hal itu tentu akan membuat populasi hiu di laut semakin menipis. Padahal, konsumsi hiu, lanjut Nyoman, pada dasarnya tidak menimbulkan keuntungan bagi manusia.

“Lebih banyak kepada prestise, itu sebuah barang yang susah untuk didapat dan berharga mahal sehingga itu menjadi suatu kebanggaan bagi yang mengonsumsinya,” jelas Nyoman.
Selain tidak memiliki manfaat khusus, mengkonsumsi ikan hiu justru berpengaruh kepada kesehatan. Sebab, dalam ikan hiu terdapat kandungan merkuri berlebih yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Nyoman menjelaskan, berdasarkan pemberitahuan dari Badan Pengawasan Obat dan makanan (BPOM) pada 2009 lalu, hiu mengandung merkuri paling tinggi yang mencapai 1 – 4 ppm.

Kandungan merkuri yang tinggi tentu berdampak pada kesehatan manusia, salah satunya terhadap janin. Kandungan merkuri tinggi dapat menembus plasenta sehingga menimbulkan gangguan sistem saraf dan perkembangan janin. Tak hanya itu, merkuri juga dapat mengganggu sistem syaraf, juga mengganggu fungsi hati, ginjal, dan organ lainnya.

Maraknya pengonsumsian hiu juga tak lepas dari mitos yang mengatakan sirip hiu memiliki fungsi besar untuk menambah vitalitas dan kemampuan seksual. Padahal, menurut pendiri ProFauna, Rosek Nursahid, hal tersebut merupakan mitos belaka berdasarkan data yang ia dapatkan.

“Sirip hiu masih diminati sebagai makanan berkelas, namun data terbaru menyebutkan bahwa mengkonsumsi sirip hiu itu justru bisa mengancam kemandulan pria,” jelas Rosek.

Senada dengan Nyoman dan juga Rosek, pemerhati konservasi alam dan mantan pembawa acara program perjalanan, Riyanni Djangkaru turut menyayangkan konsumsi ikan hiu yang sampai saat ini masih dilakukan beberapa pihak. Sebab, selain berdampak buruk bagi kesehatan, mengkonsumsi hiu juga turut andil merusak ekosistem yang ada.

“Peran dia (hiu) di lautan itu sebagai dokter laut salah satunya, maka dia memakan ikan-ikan yang sakit jadi dimakanin sama dia,” kata Riyanni.

Lebih lanjut Riyanni menjelaskan, spesies ikan pemburu di laut umumnya hanya bisa memakan ikan lain yang terletak satu tingkat atau beberapa tingkat di bawahnya sesuai dengan piramida ekosistem. Namun, keistimewaan hiu bisa memakan hingga spesies-spesies lain jauh di bawah letak piramida.

“Hiu itu bisa makan jauh banget dari tingkat paramidanya dia, dengan begitu dia menjaga stabiilitas dari masing-maisng spesies,” sambungnya.

Dengan upaya terus menghimbau masyarakat akan bahayanya mengkonsumsi hiu tak hanya bagi kesehatan, tetapi juga bagi lingkungan, para pegiat lingkungan ini berharap masyarakat luas bisa paham alasan-alasan mengapa hiu tak layak dikonsumsi. Di samping itu, Riyanni menambahkan fungsi khusus para “dokter laut” tersebut yang ternyata berdampak luas bagi kehidupan.

“Justru yang harus diperhatikan justru spesie-spesies yang tugasnya menjaga variasi ikan dan memberi pemasukan juga buat nelayan, memberi variasi untuk kita juga yang makan, dan masukan buat negara,” tutupnya.

 
Sumber : kompas



Berita Terkait

Kuliner Ekstrim Tongseng Hiu dari Kudus

Bagi penyuka kuliner ekstrim, ada sebuah kedai di Kudus, Jawa Tengah, yang menyediakan menu berbahan dasar ikan hiu. Kedai bernama Kedai Griya Wisata Kuliner ini mengklaim, kuliner berbahan dasar ikan predator ini juga berkhasiat mempercepat penyembuhan berbagai macam penyakit berat. Seperti apa?

Jari jemari Kundari (37), terlihat cekatan melumuri sekujur tubuh ikan hiu yang baru dikeluarkannya dari lemari pendingin dengan air perasan jeruk nipis. Setelah itu, hiu putih dengan berat sekitar 2 kilogram itu dibiarkannya sekitar 5 menit.

 

Setelah itu, ia pun mengerok kulit hiu itu dengan pisau. Setelah kulit luar hiu terkelupas, Kundari melumuri lagi dengan perasan air jeruk nipis.

"Cara ini efektif agar agar bau amisnya hilang dan kulit hiu tidak kasar saat dimasak," kata Kundari saat ditemui, di Jalan Kudus - Jepara Km 3 - Garung Lor, Kudus, Jawa Tengah.

Ikan hiu itupun dipotongnya menjadi beberapa bagian. Bagian kepala dikumpulkan dengan sirip serta ekor. Beberapa bagian ini biasanya diolah menjadi sup.

Sedangkan, bagian tubuh hiu lainnya bisa diolah dengan menjadi beberapa menu makanan. Seperti tongseng, goreng, atau pepesan.

Ditanya soal bahan yang dibutuhkan, menurut Kundari, tak berbeda dengan menu makanan pada umumnya. Hanya yang berbeda cara pengolahannya agar kuliner yang disajikan cocok di lidah.

"Eksperimen untuk membuat kuliner serba hiu ini terus saya lakukan setahun terakhir. Setelah cocok baru saya buka untuk umum," jelasnya didampingi sang suami, Sudarmo.

Inspirasi membuat kuliner berbahan dasar hiu muncul tak sengaja. Saat itu, Kundari yang hobi jalan-jalan ini mampir ke tempat pelelangan ikan yang ada di Jepara. Di tempat itu, terdapat beragam ikan hasil tangkapan nelayan.

Termasuk ikan hiu yang secara tak sengaja tertangkap jaring nelayan. Ternyata para nelayan hanya mengambil sirip hiu, sedang bagian tubuh lainnya diolah dengan cara diasapi. Dan jika dijual ikan asap hiu pun dihargai dengan nominal yang tergolong murah.




sumber : sindonews , pbs.twimg.com

Add Comments


EmoticonEmoticon